Selasa, 16 Maret 2021

Muslimah Harus Faham Tentang Haid


Kebanyakan dari kita mungkin kurang faham mengenai kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang muslim. Terkadang kewajiban tersebut dinilai susah untuk dipelajari. Ketahuilah, Syariat Islam tidak pernah memberikan sesuatu yang sulit dalam memberikan beban hukum kepada pelakunya, karena Syariat Islam selalu berjalan sesuai dengan fitrah manusia pada umumnya. Allah SWT berfirman:

يُرِيدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ… 

"(Allah) menghendaki bagimu kemudahan, dan (Dia) tidak menghendaki bagimu kesulitan."

(QS.Al-Baqara:2[182])


Termasuk dari pada hukum tersebut adalah pengertian mengenai Darah Haid. Adapun Haid dalam segi bahasa sendiri diambil dari kata Hadho yang artinya mengalir. Jadi mengalirnya darah wanita dari kemaluan bukan karena faktor sakit tapi memang dari faktor alamiah yang terjadi pada diri wanita.


Darah Haid juga enunjukkan bahwa wanita tersebut sudah dinyatakan subur dan bisa melahirkan. Lain halnya dengan Asiah, yaitu perempuan yang sudah lanjut usia dan sudah tidak bisa mengeluarkan Darah Haid dan membuahi lagi.


Adapun Darah Haid ini pada umumnya keluar pada umur sembilan tahun. Dan darah itu menunjukkan bahwa seorang wanita sudah dinyatakan baligh serta dibebankan hukum-hukum tertentu yang harus ia jalani. Apabila jika seorang wanita tersebut keluar darah di bawah usia sembilan tahun, maka sudah bisa dipastikan itu bukan Darah Haid namun suatu darah penyakit dan belum dinyatakan baligh.


Dalam ajaran Syariat Islam kebersihan sangatlah diperhatikan. Maka dari itu, dilarang bagi para muslimah untuk melaksanakan sholat dan puasa ketika keluar Darah Haid sebab itu adalah sebuah kotoran sebagaimana firman Allah SWT:


وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ 


"Dan mereka bertanya tentang Haid. Katakanlah itu adalah kotoran maka jauhilah istri-istrimu ketika Haid, dan janganlah engkau mendekati mereka sampai mereka suci, apabila mereka sudah suci maka campurilah mereka sesuai ketentuan perintah Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah cinta terhadap orang-orang yang bertaubat dan cinta terhadap orang-orang yang suci."

(QS.Al-Baqarah:2[222])


Dalam hukum ini memiliki rumusan yang harus diketahui oleh seluruh muslimah. Rumusan tersebut dihitung sesuai dengan tanggal hijriah, karena seluruh Hukum Fiqih menggunakan kalender hijriyah sebagai patokan hukum.


Kriteria yang bisa disebut Darah Haid.


Darah yang keluar dari kemaluan wanita apabila sudah mencapai 24 jam dalam jangka waktu kurang dari 15 hari maka sudah bisa dinyatakan sebagai Darah Haid. Baik keluarnya secara tersendat-sendat atau secara terus-menerus mengalir.


Seperti contoh, keluarnya darah tersebut di hari pertama keluar 5 jam, di hari kedua keluar 10 jam, kemudian di hari ketiga keluar 9 jam. Apabila dikumpulkan maka jumlah seluruhnya 24 jam maka darah tersebut sudah bisa dinyatakan sebagai Darah Haid. Atau misalkan di hari ketiga keluarnya 12 jam dan jumlah seluruhnya 27 jam maka selebihnya ini juga disebut darah Haid. Maka seorang muslimah sudah dinyatakan harus meninggalkan sholat dan puasanya.


Kecuali jika darah tersebut keluar di hari pertama 2 jam, di hari ke dua 4 jam, kemudian tidak keluar darah lagi hingga melebihi 15 hari dari hari pertama ia Haid. Maka darah tersebut bukan Darah Haid dan wajib mengganti sholat yang ia tinggalkan. Apabila sudah dinyatakan Darah Haid maka tidak wajib baginya sholat dan puasa sampai darah itu berhenti dibawah 15 hari atau di 15 hari dari awal ia mengeluarkan Darah Haid.

 

Sesuatu yang harus digaris bawahi di sini adalah, jika darah yang keluar masih belum sampai 24 jam seperti keterangan di atas maka masih wajib mandi dan melaksanakan sholat jika darahnya sudah mampet. Seperti contoh seorang muslimah berhenti darahnya di dari pertama setelah tadi keluar sebelum dhuhur sampai masuk waktu ashar jika dikalkulasi total keluarnya 5 jam maka ia harus mandi dan melaksanakan sholat ashar.


Paling sedikitnya masa Haid


Darah Haid juga memiliki masa minimal dan maksimal. Biasanya masa minimalnya darah Haid hanya keluar 6 atau 7 hari saja, sedangkan masa maksimalnya sebanyak 15 hari dan selebihnya itu bisa dikatakan darah Istihadhoh atau darah penyakit.


Hitungan 15 hari ini merupakan tolak ukur masa maksimal Haid secara mutlak. Apabila keluarnya darah itu tidak teratur seperti keluar darah melebihi 24 jam yang keluar selama 8 hari kemudian mampet sampai 4 hari dan hari berikutnya yaitu di hari ke 13 keluar lagi, maka darah tersebut masih dinyatakan Darah Haid sampai 15 hari dari hitungan pertama keluarnya darah.


Masa suci di antara dua Haid


Selain masa Haid, ada juga istilah masa suci, yakni masa di mana seorang wanita tidak boleh haid. Dalam artian, darah yang keluar pada masa tersebut bukan termasuk Darah Haid melainkan Darah Istihadhoh.


Masa suci ini terhitung dari setelah mampetnya Darah Haid secara total atau lebih dari 15 hari dari awal ia Haid. Sedangkan masa minimalnya hanya 15 hari dan tidak ada batas masa maksimalnya. Jikalau seorang perempuan keluar Darah Istihadhoh secara terus-menerus sampai lebih dari 15 hari maka selebihnya itu termasuk Darah Haid yang baru.


Pengertian Darah Istihadhoh


Darah Istihadhoh adalah darah yang keluar di selain masa Haid. Jika seorang muslimah mengeluarkan Darah Istihadhoh maka masih wajib baginya sholat dan puasa. Sebab darah Istihadhoh ini merupakan darah yang berasal dari otot.


Adapun caranya ketika hendak melaksanakan sholat bagi yang mengalami hal ini berbeda dengan sholat pada umumnya:

  1. Mengganti niat wudhu dengan lafadz:

نَوَيْتُ الْوُضُوءَ لِاسْتِباَحَةِ الصَّلَاةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitul wudhu'a listibahatis sholati fardhol lillahi ta'ala

  1. Menutupi kemaluanya dengan pembalut agar tidak keluar pada saat melaksanakan sholat.

Begitulah mengenai rumusan Haid yang harus diketahui oleh seorang muslimah dalam menjalankan beban hukum syariat. Agar supaya selalu menjaga kesucian jiwa dan ruhani.

Keindahan Al-Qur'an


Sungguh begitu indah alam diciptaan Allah SWT ini. Baik berupa ciptaan yang hidup dan benda mati sekalipun, seakan-akan semuanya saling menguntungkan satu sama lain. Sehingga seimbang tatanan kehidupan di antara para makhluk-Nya meskipun memiliki sifat yang berbeda satu sama lainnya.

Akan tetapi keindahan itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan Al-Qur’an. Kitab suci umat Islam ini tidak hanya dipelajari keterangannya, namun juga bisa dinikmati seluruh unsur yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana firman Allah SWT:
وَإِذَا قُرِئَ ٱلۡقُرۡءَانُ فَٱسۡتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ
"Dan apabila dibacakan Al-Qur`ān, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.”
(QS Al-A'raf: 7 [204])

Jika seseorang mendengarkan dengan seksama bacaan Al-Qur'an lebih-lebih bisa mengartikannya secara langsung, maka bergetarlah hatinya mendengar gema ayat-ayat Allah yang merasuki jiwanya. Bahkan tidak hanya umat Islam saja yang merasakannya, bahkan kaum kafir Quraisy pun berdebar hatinya ketika mendengarkannya.

Tidak hanya sebatas itu, bahkan Al-Qur'an dikatakan bukan makhluk Allah, melainkan Kalamullah yang memiliki sifat Qadim (dahulu). Sebab setiap firman Allah merupakan bagian dari Allah SWT dan memiliki tahap-tahapan khusus hingga bisa sampai keterangannya kepada kita. Dimulai dari Lauhul Mahfudz, kemudian turun ke langit-langit dunia, kemudian turun secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW, yang kemudian sampai ke telinga kita.

Al-Qur'an merupakan mukjizat teragung baginda Nabi SAW yang tidak dapat diubah meskipun telah berlalu sekian lama masanya. Suatu gambaran keagungan Al-Qur'an sebagai mana firman Allah SWT:
لَوۡ أَنزَلۡنَا هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ عَلَىٰ جَبَلࣲ لَّرَأَیۡتَهُۥ خَـٰشِعࣰا مُّتَصَدِّعࣰا مِّنۡ خَشۡیَةِ ٱللَّهِۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَـٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ یَتَفَكَّرُونَ
"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur`ān ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berfikir."
(QS Al-Hasyr: 59 [21])

Berikut adalah beberapa keterangan unsur-unsur keindahan dan keagungan Al-Qur’an yang tak tertandingi dan tak akan lapuk tertelan masa:

Keindahan Bacaan Al-Qur'an

Pada umumnya bacaan Al-Qur'an ini disebut Qiraat. Adapun cara membacanya tidak boleh sembarangan, namun ada aturan-aturan tertentu dalam membacanya dengan benar. Mulai dari segi makhrajnya hingga tajwidnya harus dipatuhi dan diperhatikan dengan sesama. Bahkan seseorang bisa dikatakan berdosa bila keliru dalam segi bacaannya.

Penbacaan Al-Qur’an juga memiliki nada yang pas bagi pendengarnya. Sehingga diharuskan memperindah bagi pembacanya. Tapi bukan berarti Al-Qur’an itu syi'ir yang dibaca oleh para pujangga, melainkan sebuah peringatan bagi pendosa dan kabar gembira bagi yang beramal shalih. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
زَيَّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
"Perindahlah Al-Qur’an dengan suara kalian." 
(HR Ahmad dan Nasa'i)

Para ulama' membagi nada bacaan Al-Qur'an dengan berbagai macam seperti Bayati, Shobah, dll. Sehingga bacaan Al-Qur'an selalu cocok bila digunakan di berbagai acara, seperti nikahan, hajatan, dll. Namun yang terpenting bagi pembaca Al-Qur'an adalah; untuk mensyiarkan agama Allah yakni Dinul Islam Wal Iman.

Tak jarang orang yang non muslim tertarik masuk agama Islam setelah mendengar bacaan Al-Qur'an. Sedangkan bagi kaum Muslimin sendiri bacaan Al-Qur'an menjadi renungan untuk memperkuat Iman, sehingga mereka semakin termotivasi untuk beramal shalih dan selalu mendapatkan petunjuk.

Keindahan Makna Al-Qur'an

Bila ditinjau dari segi bahasa, Al-Qur'an merupakan sastra tertinggi yang pernah ada di muka bumi ini. Hal itu bisa dibuktikan walaupun masa sudah berubah silih berganti, namun tidak ada yang bisa meniru keindahan sastra Al-Qur'an. Bahkan Nabi SAW pernah menantang para ahli bahasa arab di masanya yang diabadikan dalam firman Allah SWT:
وَإِن كُنتُمۡ فِی رَیۡبࣲ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا فَأۡتُوا۟ بِسُورَةࣲ مِّن مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُوا۟ شُهَدَاۤءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِینَ
"Dan jika kamu meragukan (Al-Qur`ān) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar." 
(QS Al-Baqarah: 2 [23])

Imam Jalaluddin Suyuthi dalam kitab tafsirnya yang sangat populer Tafsir Jalalain berpendapat "Bahwa Al-Qur'an tidak bisa ditandingi dalam segi sastra, keindahan susunan, mengabarkan hal yang tak kasat mata, keselarasan awal dan akhir suratnya."

Tidak hanya dalam segi tatanan bahasa yang indah, namun juga banyak kandungan dan hikmah dari makna Al-Qur’an. Memang yang dikenal sekarang Al-Qur’an hanya sebanyak 600 halaman isinya, akan tetapi penjelasannya digambarkan seakan-akan gedung Buruj Khalifah ditumpuk sampai tiga kali lipat maka tidak akan mampu menandingi banyaknya kandungan penafsirannya.

Banyak beberapa cabang ilmu yang terlahir dari Al-Qur'an. baik cabang ilmu tersebut berupa ilmu agama seperti Fiqh, Nahwu, Tauhid, dll, atau ilmu umum seperti kedokteran, fisika, geologi, dll. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an itu besifat universal, tidak hanya dinikmati oleh umat muslim tetapi seluruh makhluk Allah yang ada di alam ini.

Keindahan tulisan Al-Qur’an

Unsur keindahan yang terakhir yaitu tulisan Al-Qur'an yang sangat indah bila dilihat mata. Untuk penulisan Al-Qur'an ini sendiri diuraikan dalam ilmu yang disebut Tahsinul Khat. Dan butuh ketelitian pula dalam segi penulisannya. Sehingga dari ketelitian dalam penulisan tersebut maka terlahirlah sebuah karya kaligrafi Al-Qur'an. 

Tulisan Al-Qur'an itu berbeda cara menulisnya dibandingkan keterangan kitab yang dikarang oleh para ulama. Adapun tulisan Al-Qur'an yang kini berlaku disebut Rasmun Utsmani, yaitu penulisan Al-Qur'an yang digagas oleh Sayyidina Utsman Bin Affan di masa kekhalifahannya.

Penulisan Al-Qur'an ini juga memiliki sejarah yang panjang. Di masa Nabi Muhammad SAW Al-Qur'an ditulis di pelepah kurma, kulit kambing, dll. Sebab banyaknya penghafal Al-Qur'an yang wafat di masa kehalifahan Abu Bakar As-Siddiq pada perang Yamamah maka Sayyidina Umar mengumpulkan tulisan Al-Qur'an tersebut menjadi satu, dan dibukukan dalam satu mushaf.

Selang beberapa lama, di masa Sayyidina Utsman Al-Qur'an sudah banyak berubah dalam segi kepenulisannya, ada yang berupa Mushaf Aisyah, Mushaf Ibnu Mas'ud, dll. Maka dari itu Sayyidina Utsman mengumpulkannya menjadi satu, yang kemudian dikenal menjadi Mushaf Rasmun Utsmani.

Kamis, 04 Maret 2021

Bahagia Dengan Qonaah Dan Bersyukur


Banyak orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan itu bisa diukur dengan harta dan tahta. Padahal, belum tentu hal tersebut mengantarkan pada kebahagiaan. Buktinya, kasus bunuh diri terbanyak berasal dari kalangan para tajir dan pejabat tinggi di negeri Jepang dan Amerika. Tentunya, hal tersebut berasal dari tekanan hidup yang membuat mereka stres sampai-sampai berani mengakhiri nyawanya dengan tragis.


Bahkan tidak sedikit dari kalangan yang memiliki tingkat ekonomi yang rendah ingin menjadi orang yang kaya. Padahal, kekayaan bukan merupakan jaminan untuk merasakan suatu kebahagiaan. Sehingga, timbullah perasaan saling hasud di antara satu sama lain merasa orang lain lebih tentram hidupnya daripada dirinya.


Ini merupakan sifat buruk yang benar-benar harus dihindari. Tidak hanya membuat hidup merasa tidak nyaman, bahkan memicu terjadinya suatu pertikaian. Yang lebih parahnya lagi sifat iri dapat menghanguskan amal baik pada jiwa manusia. Rasulullah SAW bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ الْنَارُ الْحَطَبَ رواه البخاري و مسلم

"Takutlah kalian dengan hasud. Karena hasud memakan kebaikan-kebaikan  sebagaimana api yang memakan kayu bakar." (HR Bukhari dan Muslim)


Ajaran Islam datang sebagai Rohmatal Lil Alamin memberikan solusi dalam setiap permasalahan. Oleh sebab itu, Ajaran Islam mengajarkan sifat untuk selalu bersyukur dan menerima apa adanya. Memang pada dasarnya, berpegang teguh pada Ajaran Islam merupakan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.


Sifat menerima apa adanya dan bersyukur berasal dari kerendahan hati. Meskipun orang yang memiliki sifat ini rendah tingkat perekonimiannya, tetapi mereka bisa merasakan kebahagiaan. Bahkan, bisa jadi kebahagiaan yang mereka rasakan melebihi kebagiaan orang yang kaya dan berkedudukan tinggi.


Menerima Apa Adanya Atau Qonaah

Sungguh kebahagiaan yang sejati, bagi orang yang benar-benar memiliki sifat menerima apa adanya. Sebab hatinya tidak pernah risau terhadap segala kekurangan pada dirinya. Sehingga, ia mampu menjalani segala bentuk ujian tanpa keluh kesah.


Sifat ini juga tergolong suatu kemuliaan. Karena, merupakan salah satu pondasi dari sifat Zuhud yang artinya tidak terlalu cinta pada dunia. Bahkan pada hakekatnya, dunia itu hina seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW:


إِنَّ مَطَعْمَ ابْنِ آدَمَ جُعِلَ مَثَلًا لِلدُّنْيَا وَإِنْ قَزَّحَهُ وَمَلَّحُهُ فَانْظُرُوا إِلَى مَا يَصِيْرُ. رواه أحمد وابن حبان

"Sesungguhnya makanan anak adam dijadikan perumpamaan bagi dunia. Meskipun telah diberi bumbu dan garam, maka lihatlah menjadi apa makanan tersebut." (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)


Tapi bukan berarti menerima apa adanya itu tidak butuh terhadap dunia. Dunia tetap dibutuhkan, hanya sekedar untuk mencukupi kebutuhan agar tetap bisa melangsungkan hidup. Hanya saja, dunia bukan menjadi suatu prioritas bagi orang yang menerima apa adanya.


Bahkan sangat berbahaya sekali, bilamana dunia ini dijadikan sebagai prioritas utama. Sebagaimana hadits Nabi SAW:

أَنَّ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَّةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِِجَدْيِ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَ قَالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ فَقَالُو: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللّٰهِ لَوْ كَانَ حيًَّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأنَّهُ أَسَكُّ. فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللّٰهِ لِلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللّٰهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ. رواه مسلم

Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alahi Wa Sallam melintasi pasar bersama banyak orang yang berada di dekat beliau. Beliau berjalan melintasi bangkai anak kambing jantan yang telinganya kecil. Sambil memegang telinganya beliau bersabda, "Siapa yang ingin membeli ini seharga satu dirham?" Orang-orang pun berkata, "Kami sama sekali tidak tertarik dengannya. Apa yang bisa kita perbuat dengannya?" Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam kemudian bersabda, "Apakah kalian mau jika ini menjadi milik kalian?" Orang-orang berkata, "Demi Allah, andaikan anak kambing jantan ini hidup niscaya ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati." Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, "Demi Allah, sungguh dunia itu lebih hina bagi Allah daripada anak kambing ini bagi kalian." (HR Muslim)


Memang pada kenyataannya, paling banyak penduduk surga adalah orang yang fakir. Tetapi perlu diingat, fakir yang bagaimanakah kebanyakan penduduk ahli surga itu. Maka jawaban yang tepat adalah, fakir yang mau menerima apa adanya dari kekurangan dirinya. Sedangkan fakir yang tidak menerima apa adanya, inilah yang dimaksud sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam:

كَادُ الْفَقْرِ أَنْ يَكُونَ كُفْرًا. رواه البيهقي

"Hampir saja kefakiran itu mendekati kekufuran." (HR. Baihaqi)


Orang yang menerima apa adanya selalu beranggapan bahwa semua manusia itu senasib. Seperti contoh, Kadangkala ada yang kaya namun menderita dengan keluarganya, terkadang yang miskin bahagia dengan keluarganya.


Salah satu di antara keutamaan menerima apa adanya adalah mampu menolak hasud. Karena pada dasarnya, orang yang hasud selalu memandang orang lain lebih bahagia kehidupannya daripada dirinya. Bahkan, hasud merupakan penyakit hati yang selalu membuat hati tidak tenang karena selalu memikirkan kejelekan orang lain.


Bersyukur

Setelah mengulas tentang hakikat suatu kebahagiaan yang pertama. Perlu juga rasanya, mengulas sumber kebahagiaan yang berikutnya yaitu bersyukur.


Syukur merupakan wujud ungkapan atas apa yang diberikan Allah. Kalau ungkapan syukur kepada seseorang itu hanyalah perantara. Bahkan, seorang yang bersyukur akan ditambah kenikmatannya oleh Allah dan ancaman bagi mereka yang tidak mau mensyukurinya, Sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Dan (ingatlah) ketika tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim:14[7])


Syukur dalam hal ini bayak sekali cara untuk mengungkapkannya. Pada intinya terdapat tiga cara bagi makhluk untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah.


Yang pertama, bersyukur dengan lisan. Pada umumnya hal ini diucapkan dengan kata-kata Alhamdulillah atau ucapan terima kasih. Kata-kata tersebut menunjukkan suatu kehormatan bagi siapapun yang berjasa bagi dirinya.


Namun juga banyak kata-kata kata lain yang bisa digunakan. Tapi jika berhubungan dengan Allah, maka menggunakan dzikir-dzikir termasuk salah satunya seperti dzikir Alhamdulillah.


Yang ke dua bersyukur dengan hati. Jadi syukur yang dimaksut di sini, adalah hatinya merasa puas dengan anugerah yang diberikan oleh Allah. Sehingga, hatinya merasa tenang dan bahagia karenanya.


Yang ke tiga, bersyukur dengan perbuatan. Yang dimaksud di sini yaitu lantaran kenikmatan yang diberikan oleh Allah padanya menjadi suatu motivasi untuk giat beribadah dan mengerjakan amal sholeh. Seperti yang sering dibiasakan oleh orang Indonesia, yaitu melalui cara mengadakan acara tasyakuran dengan memberikan sedekah kepada fakir miskin.


Bahkan seluruh ibadah itu pada dasarnya merupakan wujud rasa syukur kepada Allah. Karena makhluk tidak mungkin mampu menghitung berapa banyak nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Sebagaimana firman-Nya:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌِ

"Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan sanggup. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An-Nahl:16[18])


Adapun kenikmatan yang paling besar yang harus disyukuri adalah kenikmatan iman. Sebab, sudah pasti nikmat tersebut akan mengantarkannya pada petunjuk.

Tegas Dalam Menghadapi Permasalahan


Bermacam-macam permasalahan yang dihadapi seseorang menjadikan bermacam-macam pula dalam menanganinya. Tugas manusia hanya berusaha sedangkan hasilnya kita pasrahkan kepada Allah SWT. Hanya saja dalam hidup itu harus yakin bahwa takdir apapun yang diberikan Allah SWT merupakan hal yang terbaik bagi kita dan kita bisa melaluinya.

Setiap manusia memiliki pergaulan sosial yang berbeda-beda. Dari situlah masalah mucul dan dari situ pula masalah terpecahkan. Pada pembahasan kali ini hanya merupakan prinsip dasar dalam mencari jalan keluar dari setiap permasalahan, yaitu suatu sifat tegas yang menjadi prinsip dasar yang bisa dijalankan oleh siapapun yang bertekat kuat.

Sifat tegas ini merupakan sifat keutamaan yang harusnya dimiliki manusia. Sifat ini merupakan pertengahan dari dua unsur sifat pengecut dan anarkis. Pada kenyataannya sesuatu yang lebih pas itu berada di pertengahan tidak terlalu berlebihan dan tidak terlalu kurang, sekalipun dalam hal lain.

Alangkan baiknya jika sifat tegas ini diulas beserta dua sifat buruk yang berada di antaranya. Sebab, barang siapa yang tidak mengerti akan suatu keburukan maka akan jatuh pada keburukan tersebut. begitu pula sebaliknya, barang siapa yang mengetahui suatu kebaikan maka akan lebih mudah untuk melaksanakannya.

Sifat Pengecut


Pada intinya, seseorang yang memiliki sifat ini memiliki keinginan ingin dipuji. Tetapi ketika dijalankan maka akan mengecewakan hasilnya. Karena, prisip dasar ingin dipuji ini merupakan suatu penghambat seseorang dalam menggapai keberhasilan.


Sifat pengecut juga memiliki dasar rasa takut dalam menghadapi problematika. Sebab lemahnya hati sang pengecut yang menguasai dirinya. Bahkan ia lebih rela menghindar dari segala permasalahan yang harusnya dipertanggung jawabkan.

Bukan berarti orang yang sering dikucilkan dan dibulli itu merupakan orang yang sabar. Karena definisi sabar sendiri adalah mampu menghadapi ancaman dirinya namun ia lebih memilih untuk mengalah. Sedangkan sifat pengecut di sini ia memang tidak mampu menghadapi ancaman bagi dirinya sendiri.


Terkadang seorang pengecut sering melakukan prilaku-prilaku yang membuat orang lain geram seperti mencari sensasi dengan melakukan hal-hal yang aneh, dan merasa paling bisa. Jadi, bukan berarti orang yang mengkucilkan atau membulli itu seluruhnya salah tapi mereka berdua sama-sama melakukan kesalahan dalam bertindak.


Faktor lain yang mendasar bagi seorang pengecut adalah susah untuk menerima nasihat. Karena ia selalu menganggap kekurangannya sudah bisa mencukupinya dalam memecakan masalah. Padahal sifat merasa dirinya cukup dan tak mau mempertimbangkan lebih luas ini merupakan cabang dari suatu kesombongan.


Sifat Anarkis


Jika diperhatikan dalam segi kerusakan yang sering banyak terjadi, maka dapat ditarik kesimpulan hal tersebut berasal dari prinsip anarkisme yang tidak terkontrol. Hal tersebut sudah wajar karena luapan emosi yang dialami mengabaikan suatu akal sehat.


Adapun pendirian dasar sifat anarkis itu berasal dari keberanian yang melampaui batas. Sehingga ia lebih mengedepankan amarah daripada akal sehatnya. Oleh karena itu, seorang yang anarkis mengabaikan dampak resiko dari apa yang ia perbuat. Harusnya seseorang dituntut untuk selalu memikirkan dampak resiko dari perbuatan yang akan dijalankan.


Sifat ini sering meresahkan dan merugikan orang lain. Pasalnya, tidak hanya dirinya sendiri yang merasakan bahkan orang lain pun akan terkena dampaknya. Begitu juga dalam suatu organisasi, seorang yang anarkis sering menimbulkan tambahnya masalah di dalam lingkup organisasi.

Jangankan menjadi pimpinan, bahkan menjadi anggota pun sangat beresiko. Karena seorang yang anarkis selalu mengedepankan pendapatnya sendiri dan mengabaikan orang lain, seperti halnya pengecut yang mengabaikan nasihat yang positif.

Setinggi apapun kedudukan dan keilmuan seseorang, jika selama sikap anarkis ini masih melekat di hatinya maka segala yang dihadapinya akan semakin kacau. Karena, ia lebih mengedepankan nafsunya daripada akalnya. Bisa jadi, ia mencari objek lain yang tidak ada sangkut pautnya menjadi bahan pelampiasan.

Sifat Tegas

Sungguh suatu kemuliaan yang luar biasa bagi pribadi seseorang jika memiliki sifat tegas pada dirinya. Sebab ia selalu menggunakan kebijaksanaan dalam menghadapi permasalahan. Adapun sumber dari sifat ini adalah keberanian dan kebijaksanaan.


Bukan berarti seseorang yang menyampaikan orasinya dengan berapi-api merupakan tindakan anarkis. Bisa saja itu suatu ketegasan guna membakar semangat pendengar. Pada dasarnya kemanfaatan dari sifat tegas itu sendiri dapat membangkitkan dirinya sendiri dan orang lain.

Sifat tegas juga mengenal aturan hukum yang berlaku. Jadi seorang yang tegas tau sampai di mana ia harus berhenti agar tidak melampaui batasan hukum. Bukan berarti ia takut untuk menerobos hukum, tetapi ia lebih mengedepankan resiko yang akan terjadi bila melanggar hukum.

Adapun kemampuan lain yang dimiliki bagi seorang yang tegas yaitu mampu memperhitungkan suatu rencana hingga dapat ia capai dengan tepat sasaran. Meskipun dasar dari sifat tegas adalah suatu keberanian, tetapi juga selalu tenang dalam setiap kondisi. Sehingga pada akhirnya, menemui jalan keluar dan hasil yang memuaskan dalam memecahkan masalah.

Keteguhan prinsip seorang yang tegas juga tidak mudah tergoyahkan oleh pengaruh negatif yang menyerangnya. Sebab mereka yakin terhadap dirinya sendiri. Tetapi, bukan berarti tidak mau menerima mutiara nasehat positif, justru mutiara nasehat dijadikan bahan untuk memotivasi dirinya.

Sejatinya nafsu itu takut dengan keberanian. Jadi seorang yang tegas mampu menghentikan nafsunya dengan menggunakan akal sehatnya sebagai landasan. Beda hanya dengan amarah yang selalu mengedepankan nafsu, ketegasan justru menjadi kebalikan daripada hal itu.

Suatu ketegasan merupakan ancaman bagi kejahatan yang tersembunyi maupun yang tampak. Maka sudah wajar bila seorang yang tegas selalu dibenci oleh orang yang memiliki sifat kejahatan.


Muslimah Harus Faham Tentang Haid

Kebanyakan dari kita mungkin kurang faham mengenai kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang muslim. Terkadang kewajiban tersebut...