Sungguh begitu indah alam diciptaan Allah SWT ini. Baik berupa ciptaan yang hidup dan benda mati sekalipun, seakan-akan semuanya saling menguntungkan satu sama lain. Sehingga seimbang tatanan kehidupan di antara para makhluk-Nya meskipun memiliki sifat yang berbeda satu sama lainnya.
Akan tetapi keindahan itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan Al-Qur’an. Kitab suci umat Islam ini tidak hanya dipelajari keterangannya, namun juga bisa dinikmati seluruh unsur yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana firman Allah SWT:
وَإِذَا قُرِئَ ٱلۡقُرۡءَانُ فَٱسۡتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ
"Dan apabila dibacakan Al-Qur`ān, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.”
(QS Al-A'raf: 7 [204])
Jika seseorang mendengarkan dengan seksama bacaan Al-Qur'an lebih-lebih bisa mengartikannya secara langsung, maka bergetarlah hatinya mendengar gema ayat-ayat Allah yang merasuki jiwanya. Bahkan tidak hanya umat Islam saja yang merasakannya, bahkan kaum kafir Quraisy pun berdebar hatinya ketika mendengarkannya.
Tidak hanya sebatas itu, bahkan Al-Qur'an dikatakan bukan makhluk Allah, melainkan Kalamullah yang memiliki sifat Qadim (dahulu). Sebab setiap firman Allah merupakan bagian dari Allah SWT dan memiliki tahap-tahapan khusus hingga bisa sampai keterangannya kepada kita. Dimulai dari Lauhul Mahfudz, kemudian turun ke langit-langit dunia, kemudian turun secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW, yang kemudian sampai ke telinga kita.
Al-Qur'an merupakan mukjizat teragung baginda Nabi SAW yang tidak dapat diubah meskipun telah berlalu sekian lama masanya. Suatu gambaran keagungan Al-Qur'an sebagai mana firman Allah SWT:
لَوۡ أَنزَلۡنَا هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ عَلَىٰ جَبَلࣲ لَّرَأَیۡتَهُۥ خَـٰشِعࣰا مُّتَصَدِّعࣰا مِّنۡ خَشۡیَةِ ٱللَّهِۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَـٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ یَتَفَكَّرُونَ
"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur`ān ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berfikir."
(QS Al-Hasyr: 59 [21])
Berikut adalah beberapa keterangan unsur-unsur keindahan dan keagungan Al-Qur’an yang tak tertandingi dan tak akan lapuk tertelan masa:
Keindahan Bacaan Al-Qur'an
Pada umumnya bacaan Al-Qur'an ini disebut Qiraat. Adapun cara membacanya tidak boleh sembarangan, namun ada aturan-aturan tertentu dalam membacanya dengan benar. Mulai dari segi makhrajnya hingga tajwidnya harus dipatuhi dan diperhatikan dengan sesama. Bahkan seseorang bisa dikatakan berdosa bila keliru dalam segi bacaannya.
Penbacaan Al-Qur’an juga memiliki nada yang pas bagi pendengarnya. Sehingga diharuskan memperindah bagi pembacanya. Tapi bukan berarti Al-Qur’an itu syi'ir yang dibaca oleh para pujangga, melainkan sebuah peringatan bagi pendosa dan kabar gembira bagi yang beramal shalih. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
زَيَّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
"Perindahlah Al-Qur’an dengan suara kalian."
(HR Ahmad dan Nasa'i)
Para ulama' membagi nada bacaan Al-Qur'an dengan berbagai macam seperti Bayati, Shobah, dll. Sehingga bacaan Al-Qur'an selalu cocok bila digunakan di berbagai acara, seperti nikahan, hajatan, dll. Namun yang terpenting bagi pembaca Al-Qur'an adalah; untuk mensyiarkan agama Allah yakni Dinul Islam Wal Iman.
Tak jarang orang yang non muslim tertarik masuk agama Islam setelah mendengar bacaan Al-Qur'an. Sedangkan bagi kaum Muslimin sendiri bacaan Al-Qur'an menjadi renungan untuk memperkuat Iman, sehingga mereka semakin termotivasi untuk beramal shalih dan selalu mendapatkan petunjuk.
Keindahan Makna Al-Qur'an
Bila ditinjau dari segi bahasa, Al-Qur'an merupakan sastra tertinggi yang pernah ada di muka bumi ini. Hal itu bisa dibuktikan walaupun masa sudah berubah silih berganti, namun tidak ada yang bisa meniru keindahan sastra Al-Qur'an. Bahkan Nabi SAW pernah menantang para ahli bahasa arab di masanya yang diabadikan dalam firman Allah SWT:
وَإِن كُنتُمۡ فِی رَیۡبࣲ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا فَأۡتُوا۟ بِسُورَةࣲ مِّن مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُوا۟ شُهَدَاۤءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِینَ
"Dan jika kamu meragukan (Al-Qur`ān) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar."
(QS Al-Baqarah: 2 [23])
Imam Jalaluddin Suyuthi dalam kitab tafsirnya yang sangat populer Tafsir Jalalain berpendapat "Bahwa Al-Qur'an tidak bisa ditandingi dalam segi sastra, keindahan susunan, mengabarkan hal yang tak kasat mata, keselarasan awal dan akhir suratnya."
Tidak hanya dalam segi tatanan bahasa yang indah, namun juga banyak kandungan dan hikmah dari makna Al-Qur’an. Memang yang dikenal sekarang Al-Qur’an hanya sebanyak 600 halaman isinya, akan tetapi penjelasannya digambarkan seakan-akan gedung Buruj Khalifah ditumpuk sampai tiga kali lipat maka tidak akan mampu menandingi banyaknya kandungan penafsirannya.
Banyak beberapa cabang ilmu yang terlahir dari Al-Qur'an. baik cabang ilmu tersebut berupa ilmu agama seperti Fiqh, Nahwu, Tauhid, dll, atau ilmu umum seperti kedokteran, fisika, geologi, dll. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an itu besifat universal, tidak hanya dinikmati oleh umat muslim tetapi seluruh makhluk Allah yang ada di alam ini.
Keindahan tulisan Al-Qur’an
Unsur keindahan yang terakhir yaitu tulisan Al-Qur'an yang sangat indah bila dilihat mata. Untuk penulisan Al-Qur'an ini sendiri diuraikan dalam ilmu yang disebut Tahsinul Khat. Dan butuh ketelitian pula dalam segi penulisannya. Sehingga dari ketelitian dalam penulisan tersebut maka terlahirlah sebuah karya kaligrafi Al-Qur'an.
Tulisan Al-Qur'an itu berbeda cara menulisnya dibandingkan keterangan kitab yang dikarang oleh para ulama. Adapun tulisan Al-Qur'an yang kini berlaku disebut Rasmun Utsmani, yaitu penulisan Al-Qur'an yang digagas oleh Sayyidina Utsman Bin Affan di masa kekhalifahannya.
Penulisan Al-Qur'an ini juga memiliki sejarah yang panjang. Di masa Nabi Muhammad SAW Al-Qur'an ditulis di pelepah kurma, kulit kambing, dll. Sebab banyaknya penghafal Al-Qur'an yang wafat di masa kehalifahan Abu Bakar As-Siddiq pada perang Yamamah maka Sayyidina Umar mengumpulkan tulisan Al-Qur'an tersebut menjadi satu, dan dibukukan dalam satu mushaf.
Selang beberapa lama, di masa Sayyidina Utsman Al-Qur'an sudah banyak berubah dalam segi kepenulisannya, ada yang berupa Mushaf Aisyah, Mushaf Ibnu Mas'ud, dll. Maka dari itu Sayyidina Utsman mengumpulkannya menjadi satu, yang kemudian dikenal menjadi Mushaf Rasmun Utsmani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar