Kamis, 04 Maret 2021

Bahagia Dengan Qonaah Dan Bersyukur


Banyak orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan itu bisa diukur dengan harta dan tahta. Padahal, belum tentu hal tersebut mengantarkan pada kebahagiaan. Buktinya, kasus bunuh diri terbanyak berasal dari kalangan para tajir dan pejabat tinggi di negeri Jepang dan Amerika. Tentunya, hal tersebut berasal dari tekanan hidup yang membuat mereka stres sampai-sampai berani mengakhiri nyawanya dengan tragis.


Bahkan tidak sedikit dari kalangan yang memiliki tingkat ekonomi yang rendah ingin menjadi orang yang kaya. Padahal, kekayaan bukan merupakan jaminan untuk merasakan suatu kebahagiaan. Sehingga, timbullah perasaan saling hasud di antara satu sama lain merasa orang lain lebih tentram hidupnya daripada dirinya.


Ini merupakan sifat buruk yang benar-benar harus dihindari. Tidak hanya membuat hidup merasa tidak nyaman, bahkan memicu terjadinya suatu pertikaian. Yang lebih parahnya lagi sifat iri dapat menghanguskan amal baik pada jiwa manusia. Rasulullah SAW bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ الْنَارُ الْحَطَبَ رواه البخاري و مسلم

"Takutlah kalian dengan hasud. Karena hasud memakan kebaikan-kebaikan  sebagaimana api yang memakan kayu bakar." (HR Bukhari dan Muslim)


Ajaran Islam datang sebagai Rohmatal Lil Alamin memberikan solusi dalam setiap permasalahan. Oleh sebab itu, Ajaran Islam mengajarkan sifat untuk selalu bersyukur dan menerima apa adanya. Memang pada dasarnya, berpegang teguh pada Ajaran Islam merupakan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.


Sifat menerima apa adanya dan bersyukur berasal dari kerendahan hati. Meskipun orang yang memiliki sifat ini rendah tingkat perekonimiannya, tetapi mereka bisa merasakan kebahagiaan. Bahkan, bisa jadi kebahagiaan yang mereka rasakan melebihi kebagiaan orang yang kaya dan berkedudukan tinggi.


Menerima Apa Adanya Atau Qonaah

Sungguh kebahagiaan yang sejati, bagi orang yang benar-benar memiliki sifat menerima apa adanya. Sebab hatinya tidak pernah risau terhadap segala kekurangan pada dirinya. Sehingga, ia mampu menjalani segala bentuk ujian tanpa keluh kesah.


Sifat ini juga tergolong suatu kemuliaan. Karena, merupakan salah satu pondasi dari sifat Zuhud yang artinya tidak terlalu cinta pada dunia. Bahkan pada hakekatnya, dunia itu hina seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW:


إِنَّ مَطَعْمَ ابْنِ آدَمَ جُعِلَ مَثَلًا لِلدُّنْيَا وَإِنْ قَزَّحَهُ وَمَلَّحُهُ فَانْظُرُوا إِلَى مَا يَصِيْرُ. رواه أحمد وابن حبان

"Sesungguhnya makanan anak adam dijadikan perumpamaan bagi dunia. Meskipun telah diberi bumbu dan garam, maka lihatlah menjadi apa makanan tersebut." (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)


Tapi bukan berarti menerima apa adanya itu tidak butuh terhadap dunia. Dunia tetap dibutuhkan, hanya sekedar untuk mencukupi kebutuhan agar tetap bisa melangsungkan hidup. Hanya saja, dunia bukan menjadi suatu prioritas bagi orang yang menerima apa adanya.


Bahkan sangat berbahaya sekali, bilamana dunia ini dijadikan sebagai prioritas utama. Sebagaimana hadits Nabi SAW:

أَنَّ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَّةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِِجَدْيِ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَ قَالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ فَقَالُو: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللّٰهِ لَوْ كَانَ حيًَّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأنَّهُ أَسَكُّ. فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللّٰهِ لِلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللّٰهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ. رواه مسلم

Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alahi Wa Sallam melintasi pasar bersama banyak orang yang berada di dekat beliau. Beliau berjalan melintasi bangkai anak kambing jantan yang telinganya kecil. Sambil memegang telinganya beliau bersabda, "Siapa yang ingin membeli ini seharga satu dirham?" Orang-orang pun berkata, "Kami sama sekali tidak tertarik dengannya. Apa yang bisa kita perbuat dengannya?" Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam kemudian bersabda, "Apakah kalian mau jika ini menjadi milik kalian?" Orang-orang berkata, "Demi Allah, andaikan anak kambing jantan ini hidup niscaya ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati." Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, "Demi Allah, sungguh dunia itu lebih hina bagi Allah daripada anak kambing ini bagi kalian." (HR Muslim)


Memang pada kenyataannya, paling banyak penduduk surga adalah orang yang fakir. Tetapi perlu diingat, fakir yang bagaimanakah kebanyakan penduduk ahli surga itu. Maka jawaban yang tepat adalah, fakir yang mau menerima apa adanya dari kekurangan dirinya. Sedangkan fakir yang tidak menerima apa adanya, inilah yang dimaksud sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam:

كَادُ الْفَقْرِ أَنْ يَكُونَ كُفْرًا. رواه البيهقي

"Hampir saja kefakiran itu mendekati kekufuran." (HR. Baihaqi)


Orang yang menerima apa adanya selalu beranggapan bahwa semua manusia itu senasib. Seperti contoh, Kadangkala ada yang kaya namun menderita dengan keluarganya, terkadang yang miskin bahagia dengan keluarganya.


Salah satu di antara keutamaan menerima apa adanya adalah mampu menolak hasud. Karena pada dasarnya, orang yang hasud selalu memandang orang lain lebih bahagia kehidupannya daripada dirinya. Bahkan, hasud merupakan penyakit hati yang selalu membuat hati tidak tenang karena selalu memikirkan kejelekan orang lain.


Bersyukur

Setelah mengulas tentang hakikat suatu kebahagiaan yang pertama. Perlu juga rasanya, mengulas sumber kebahagiaan yang berikutnya yaitu bersyukur.


Syukur merupakan wujud ungkapan atas apa yang diberikan Allah. Kalau ungkapan syukur kepada seseorang itu hanyalah perantara. Bahkan, seorang yang bersyukur akan ditambah kenikmatannya oleh Allah dan ancaman bagi mereka yang tidak mau mensyukurinya, Sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Dan (ingatlah) ketika tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim:14[7])


Syukur dalam hal ini bayak sekali cara untuk mengungkapkannya. Pada intinya terdapat tiga cara bagi makhluk untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah.


Yang pertama, bersyukur dengan lisan. Pada umumnya hal ini diucapkan dengan kata-kata Alhamdulillah atau ucapan terima kasih. Kata-kata tersebut menunjukkan suatu kehormatan bagi siapapun yang berjasa bagi dirinya.


Namun juga banyak kata-kata kata lain yang bisa digunakan. Tapi jika berhubungan dengan Allah, maka menggunakan dzikir-dzikir termasuk salah satunya seperti dzikir Alhamdulillah.


Yang ke dua bersyukur dengan hati. Jadi syukur yang dimaksut di sini, adalah hatinya merasa puas dengan anugerah yang diberikan oleh Allah. Sehingga, hatinya merasa tenang dan bahagia karenanya.


Yang ke tiga, bersyukur dengan perbuatan. Yang dimaksud di sini yaitu lantaran kenikmatan yang diberikan oleh Allah padanya menjadi suatu motivasi untuk giat beribadah dan mengerjakan amal sholeh. Seperti yang sering dibiasakan oleh orang Indonesia, yaitu melalui cara mengadakan acara tasyakuran dengan memberikan sedekah kepada fakir miskin.


Bahkan seluruh ibadah itu pada dasarnya merupakan wujud rasa syukur kepada Allah. Karena makhluk tidak mungkin mampu menghitung berapa banyak nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Sebagaimana firman-Nya:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌِ

"Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan sanggup. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An-Nahl:16[18])


Adapun kenikmatan yang paling besar yang harus disyukuri adalah kenikmatan iman. Sebab, sudah pasti nikmat tersebut akan mengantarkannya pada petunjuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Muslimah Harus Faham Tentang Haid

Kebanyakan dari kita mungkin kurang faham mengenai kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang muslim. Terkadang kewajiban tersebut...